Blog Story Prosedur Pengurusan Surat Tilang

Prosedur Pengurusan Surat Tilang

Kalau sudah sering berkendara di Kota Jakarta pasti pernah mengalami peristiwa dimana polisi memberhentikan kita di jalanan. Entah itu karena hanya pemeriksaan biasa, ataupun karena kita melakukan pelanggaran lalu lintas. Awalnya saya agak nervous kalau ketemu polisi, dan memang saya sempat beberapa kali kena tilang dan seperti biasa saya berusaha pake cara damai aja.

Nah terakhir saya mengalami nasib yang kurang lebih apes, baru pulang dari ketemu client di Jl. Panjang. Karena mobil agak padat, jadi saya gunakan jalur busway, dan seorang polisi udah menunggu di depan sana.

"Yah apes..."

STNK dan SIM saya diambil, lalu di ajak ke pondokan...

"Ini saya tilang ya pak...", ucap si polisi.

Dalam hati saya mikir, "Ya emang kalau kena pelanggaran harus ditilang kan..."


Lalu saya bilang, "Iya pak tilang aja, saya gak bawa duit. Kebetulan saya lagi gak sibuk."

Si polisi keliatan agak kebingungan, tapi akhirnya dia mulai nulis juga di surat tilang. Berdasarkan informasi yang saya terima dari seorang teman saya, kita sebaiknya mengambil struk yang biru, karena struk biru menyatakan bahwa kita mengakui kita bersalah, sehingga tidak akan dipersulit nantinya di pengadilan atau pengambilan SIM/STNK kita yang ditahan.

Lalu sengaja saya tanyain tuh polisi yang keliatannya masih muda, saya tanya dia panjang lebar.

"Pak ini nantinya saya harus bayarkan dendanya kemana? Pak bisa lewat tranfer BCA gak? Tolong minta alamat lengkap pak saya harus bayar kemana? Bedanya struk yang biru dan putih apa pak?"

Cecar pertanyaan banyak-banyak deh... Katanya bedanya kalau struk yang putih, pengambilan SIM/STNK yang ditahan baru bisa 7 hari kemudian setelah tilang, dan pembayaran langsung di kantor polisi yang ditunjuk. Sementara struk yang biru bisa 3 hari kemudian setelah tilang, pembayaran harus lewat BRI, dan pengambilan SIM/STNK yang disita di kantor polisi yang ditunjuk.

Ini bagian yang PALING LUCU...

"Pak, berapa denda yang harus saya bayar? Ditulis ya pak..."

Dengan cengir-cengir si polisi menjawab, "Oh kalau itu nanti di tanya ke BRI aja pak, MUNGKIN sekitar 40ribuan..."

"Yakin pak gak perlu ditulis di surat tilang ini pak? Jadi saya nanti tinggal bawa ke BRI saja dan kasir udah tau berapa saya harus bayar?"

"Iya pak", jawab si polisi dengan cengar cengir lagi...
 
Berdasarkan yang tertulis di surat tilang, nama polisi tersebut adalah SUPRI, yang masih berpangkat BRIPTU, dari kesatuan GATUR.


Nah 3 hari kemudian saya bawa deh surat tilang saya ke BRI, hendak membayar dan yang tidak saya duga ternyata pihak BRI tidak mau menerima pembayaran saya karena tidak jelas berapa nominal yang harus saya bayar berdasarkan pelanggaran yang saya lakukan. Jadi saya diminta untuk mencari polantas mana saja yang ada di jalan untuk mengisikan berapa nominal yang harus saya bayar berdasarkan pelanggaran yang saya lakukan. Ya ampun, udah mengikuti peraturan yang berlaku dan menaati hukum masih aja direpotin kayak begini, entah itu disengaja supaya merepotkan saya, ataukah polisi mudanya masih ijo ya? Gak ngerti dan gak pernah menilang pelanggar lalu lintas. Mungkin sering memberhentikan orang kali, tapi semuanya damai, jadi gak ada pengalaman nulis surat tilang. Dengan hati dongkol saya berusaha memaklumi, tapi jujur saya kecewa sekali dengan sistem yang gak jelas ini. Alhasil saya nyari-nyari di jalanan dan menemukan seorang polantas bermotor, dan beliau membantu dengan menuliskan berapa nominal yang harus saya bayar. Dan ketika saya kembali ke BRI, setelah mengarungi jalanan yang macet minta ampun, sampai sana BRI udah tutup...

Great!! Mudah-mudahan besok-besok saya bisa ketemu lagi dengan PAK SUPRI, BRIPTU GATUR yang ganteng, supaya saya bisa menegaskan lagi, "PAK KOK GAK DITULIS NOMINALNYA DENDA SAYA!!??"

So buat sharing para pembaca, next time kena tilang, gak apa apa, buat pengalaman, kalau gak sibuk ngurusinnya, tegaskan beberapa hal di bawah ini kepada si polisi :

  1. Berapa denda yang harus dibayar, harus tertulis dengan jelas
  2. Siapa nama polisi dan dari kesatuan mana
  3. Minta no hp si polisi, jadi kalau ada masalah bisa langsung contact, coba misscall dulu supaya meyakinkan kalau tuh polisi gak asal kasih nomor
  4. Tanya kemana harus membayar
  5. Tanya kemana bisa mengambil kembali STNK/SIM yang disita
  6. Kasih dia sita SIM aja, STNK lebih penting karena kalau parkir kan kita sering harus nunjukin STNK
  7. Ambil struk biru aja, lebih cepet beresnya, tinggal transfer denda di Bank BRI dan ambil SIM/STNK ke kantor polisi yang ditunjuk

 

So sebetulnya ngurus tilang itu gak terlalu sulit asalkan kita tau prosedurnya yang benar. Toh kita gak sering-sering amat pake SIM kita kan? Cuma kalau di razia aja, untuk ditunjukin ke polisi. Biasakan mengikuti peraturan dan hukum yang berlaku dengan baik dan benar aja.

 

{morfeo 9}


blog comments powered by Disqus