Blog Story Eiffel Tower, Here I Come!

Eiffel Tower, Here I Come!

Sebuah perjalanan yang tak akan terlupakan pada 7 Oktober 2013. Saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung, sebuah karya seni yang begitu populer. Oleh Gustave Eiffel, didirikan pada tahun 1889, ya the Eiffel Tower, atau dalam bahasa Prancis nya La Tour Eiffel. Namun ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang, karena saya harus berangkat dari Brussels, Belgia, seusai acara Mozilla Summit 2013. Eropa adalah sebuah benua yang besar. Ketika mendapatkan visa Schengen, saya mendapatkan masa 1 bulan untuk visa tersebut, sebuah waktu yang sebetulnya cukup untuk mengelilingi seluruh negara di Eropa. Namun saya harus memilih dengan bijaksana. Akhirnya setelah Belgia, saya memutuskan mengunjungi beberapa negara terdekat yang adalah tetangga dari Belgia. Kebetulan semuanya menarik, yaitu Prancis, Jerman, dan Belanda. Sebuah perjalanan yang saya kiri cukup untuk 2 minggu perjalanan saya.

Perjalanan pun dimulai melalui stasiun Euro Bus di Brussels. Saya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan tiket untuk keliling beberapa negara di Eropa menggunakan Euro Bus, karena menurut saya ini yang paling ekonomis daripada tiket kereta ataupun pesawat. Harga tiket sekali perjalanan Euro Bus sekitar Rp 200.000 - 500.000, tergantung dari jarak perjalanan. Jarak dari Brussels menuju Paris adalah sekitar 307KM, dan harga tiket saya adalah €14. Keberangkatan saya adalah jam 11AM, namun bus baru berangkat sekitar 11.30AM. Saya sempat pusing tujuh keliling karena sulit mencari toilet umum. Stasiun Euro Bus di Brussels ini seperti sebuah terminal Bus umum. Namun toko penjualan tiket, tidak jauh berbeda dengan toko penjualan tiket seperti Citilink, atau Daytrans yang biasa mengurus perjalanan Jakarta-Bandung.

Lokasi daripada stasiun Euro Bus di Brussels adalah seberang Hotel Cascade Midi. Saya berangkat agak terburu-buru, jadi saya menggunakan Taxi menuju stasiun Euro Bus. Awalnya agak menegangkan, karena setelah 4 hari saya di Eropa, akhirnya saya harus memulai perjalanan sendirian di negara yang sejauh 11.400KM dari negara asal saya sendiri, Indonesia. Apalagi dengan pengalaman saya kecopetan di hari pertama di Brussels, saya jadi sangat berhati-hati dan was-was dengan kanan kiri.

Meskipun saya berharap bisa melihat salju, saya bersyukur saya tidak datang ke Eropa pada musim dingin, sehingga perjalanan mulus, dan kalau menurut orang Eropa mereka menyebutnya cuaca sedang sangat bersahabat alias hangat. Padahal suhu udara sekitar 14 derajat celcius, yang kira-kira masih di bawah suhu AC kamar saya di rumah yang biasanya mentok 16 derajat celcius.

Menarik ketika melihat bus ini mengisi bahan bakar. Biasa kalau di negara asal non subsidi pun hanya sekitar 10rban per liter. Sementara di sini bus nya mengisi Diesel sekitar 290 liter, yang harganya adalah sekitar €375. Coba kalikan dengan Rp 15.000 sekarang, jadi sekali isi bahan bakar Rp 5.625.000. Wah jadi kangen dengan kampung halaman yang serba murah.

Setelah beberapa jam di jalan, sampai sekitar pukul 3 sore, akhirnya ada tanda jalan bahwa Paris sudah dekat, hore! Selama perjalanan saya terus mengamati GPS di iPhone saya. Saya tetap menggunakan kartu XL saya dan roaming dengan biaya Rp 50.000 per hari. Sayang sekali GPS dan Whatsapp saja yang kelihatannya berjalan baik. Sementara untuk browsing dan internetan benar-benar kacau balau. Tapi ya sudahlah, bisa berkomunikasi dengan teman-teman sudah cukup menghibur sementara saya jauh dari rumah. Saran saya untuk yang mau lancar berinternetan ria selama di Eropa, sebaiknya beli simcard lokal.

Begitu sampai di terminal bus di Paris, saya langsung menargetkan secepatnya bisa sampai di Hostel yang sudah saya booking, secepatnya. Kenapa? Karena saya ada membawa sekitar 3 tas. Berjalan-jalan di kota turis di Eropa seperti Paris, dengan penampilan turis, akan sangat berbahaya dan bisa menjadi target copet. Bukan sekali dua kali saya diingatkan untuk berhati-hati selama di Eropa, apalagi dengan pengalaman buruk saya pada hari pertama di Brussels. Beruntung saya sudah mempersiapkan aplikasi di iPhone saya, yaitu "Paris" sebuah aplikasi Peta GPS khusus untuk kota Paris, yang bisa saya gunakan meskipun tanpa network alias offline. Dari terminal bus di Paris Gare Rte Gallieni, saya langsung naik Metro (alias MRT), menuju stasiun Colonel Fabien. Awalnya sempat agak bingung dengan cara membeli tiket Metro di sini. Bersyukur dengan hanya memasukkan koin €1.7 saya bisa melakukan single trip dengan Metro.

Nah Hipotel murah yang berhasil saya temukan dari situs Booking.com, Hipotel Paris Belleville Gare de l'Est. Harga yang saya bayar untuk 3 malam di sini hanya €117, sebuah single room dengan shared bathroom. Memang sama sekali bukan tempat menginap yang mewah, tapi yang penting bisa tidur nyaman dan hangat. Sayangnya ini di lantai 5, dan tidak ada lift, jadi saya olahraga setiap naik turun.

Hipotel ini bersebelahan dengan sebuah sekolah. Jadi kalau pagi sampai sore hari, biasanya ramai suara anak sekolah. Reaksi pertama saya ketika masuk kamar, ya seperti kebiasaan kita pada umumnya, cari remote AC, dan bingung tidak ketemu. Saya cari remote bukan karena panas, tapi karena kamar terasa lembab. Baru saya sadar di Eropa tidak ada AC, yang ada penghangat ruangan. Jadi saya tinggal buka jendela, voila! Angin dingin masuk, dan jadilah jendela menjadi AC...

Selesai meletakkan semua tas saya di kamar, saya meminimalisir bawaan saya. Saya hanya membawa satu messenger bag, yang isinya hanya kamera Canon EOS 1100D, botol air minum, dan biskuit. Karena sudah jauh-jauh kemari, saya mau perjalanan menuju Eiffel Tower menjadi sebuah perjalanan yang berkesan. Nah bagaimana caranya? Jadi saya memutuskan berjalan kaki dari Hipotel menuju Eiffel, yang kalau saya hitung sekitar 7KM. Bisa saja saya menggunakan Metro menuju stasiun terdekat dengan Eiffel, namun saya mau merasakan suasana jalanan kota Paris, dan no earphone, pakai kaos lengan panjang, jas, scarf, berangkat! Jam saat itu sekitar pukul 5 sore, saya tidak mau sampai terlalu gelap sampai di Eiffel.

Sekelompok anak-anak yang pulang sekolah...

Wah ternyata ini dia toko dari brand kaos nya Mozilla...

Selama berjalan di kota ini, saya teringat dengan Da Vinci. Dan semua bangunan di kota ini, semua bernuansa Da Vinci. Biasanya pemandangan ini cuma saya lihat di komplek tertentu di ruko-ruko salah satu perumahan. Nah kalau di sini, kemana mata memandang, semuanya Da Vinci. Sangat artistik! Bagi saya, Paris adalah sebuah kota dimana sempat hidup banyak seniman-seniman yang populer dan bersejarah. Dan memang ini adalah kota yang menyimpan begitu banyak sejarah besar yang selama ini cuma saya baca di buku. Rasanya semua manusia yang saya lihat di sini, keren semua. Kapan Jakarta bisa sekeren kota ini?

Jembatan Cinta? Tulis nama di gembok bersama nama pasangan, lalu buang kunci nya ke sungai... Mungkin next time kesini lagi :P

Ini PKL alias Pedagang Kaki Lima di Paris. Dagangannya rapi di dalam kotak yang bisa dikunci. Kalau sore hari baru mereka buka dagangannya, yang isinya seputar buku bekas yang antik, kartu pos, lukisan, patung, dsb...

Sepeda ini bisa disewa, dan bisa dikembalikan diberbagai pos yang tersedia di sekitar kota Paris...

Nah ini ada becak versi Paris...

Sebuah area untuk pejalan kaki di pinggir sungai La Seine, Paris...

Akhirnya saya mendapatkan first sight dengan Eiffel Tower...

Yuhuuu!!

Sebuah maha karya Gustave Eiffel, disinari mentari sore dari arah barat, membuat warna setiap batang besi yang coklat menjadi berkilau keemasan. Namun memang ternyata tidak setinggi yang selama ini saya bayangkan. Eiffel Tower dengan ketinggian total 324 meter termasuk ujung antena nya. Bandingkan dengan Monas yang hanya 132 meter. Namun saya merasa tidak jauh berbeda antara ketinggian Monas dengan Eiffel, entah mengapa. Saya mencoba lihat kiri kanan mencari siapa yah yang bisa diminta tolong fotoin saya dengan Eiffel. Ketika nongkrong di pinggir, ada sekelompok anak muda berwajah asia sedang nongkrong juga. Kebetulan dekat dengan tempat saya berdiri, jadi saya menguping pembicaraan mereka. Oalah, bahasa nya Indonesia! Langsung deh saya samperin dan bilang "Tolong fotoin dong...". Respon salah satu anak muda nya, "Oh dari Indonesia ya?" Ternyata mereka adalah pelajar asal Indonesia, yang sedang studi di Paris. Saya tidak tanya detailnya mereka studi apa di Paris, mungkin bidang seni atau fashion. Salah satu dari mereka cukup berusaha keras untuk bisa mengambil foto saya bersama Eiffel dari ujung bawah ke atas, sampai ambil low angle ke lantai. Inilah hasilnya...

Nah, saksikan betapa sulitnya mengambil foto penuh Eiffel dari jarak dekat...

Kalau foto Eiffel Tower sudah pasti saya sering lihat. Namun ibarat melihat sebuah pelangi, yang justru membuat saya penasaran dan tertarik untuk mencari tahu adalah bagaimana rupa dari ujung kaki nya. Dan ternyata seperti inilah. Beberapa toko dan mungkin gudang ada di kaki-kaki Eiffel Tower.

Antrian yang sedemikian panjangnya untuk menuju puncak Eiffel membuat saya tidak berminat untuk menuju ke atas. Lagipula akan sangat membosankan mengantri sendirian.

Eiffel Tower saat itu (sepertinya) sedang membangun sebuah lift yang bisa langsung menuju ke atas lewat tengah. Wah persis Monas ya yang sedang perbaikan lift juga.

Di bawah juga ada taman yang menarik perhatian para turis. Ada bebek eropa, ada juga tikus eropa (penamaan saya sendiri).

Ketika hari sudah mulai agak gelap, sekitar pukul 7 atau 8 malam. Saya menyempatkan diri berjalan melihat ada apa di sekitar. Saya menemukan sebuah toko suvenir. Pemiliknya adalah Monsieur Osman, orang prancis yang bisa sedikit berbahasa Indonesia. Menurut ceritanya, ia sempat menghabiskan beberapa minggu berlibur di beberapa kota di Indonesia. Yah saya pikir wajar kalau dia juga bisa sedikit berbahasa Indonesia. Karena cukup banyak orang Indonesia yang menjadikan Paris menjadi salah satu tujuan wisata utama, terutama di Eropa. Bahkan ketika berbelanja di toko ini pun, saya sempat bertegur sapa dengan seseorang yang dari Indonesia juga.

Setelah langit gelap, saya kembali ke Eiffel Tower lagi untuk mengabadikan rupa nya di malam hari. Dan benar saja, struktur nya yang dalam rupa rangka-rangka besi, menjadi semakin rupawan begitu disinari oleh lampu kuning keemasan.

Mengunjungi kota Paris dan Eiffel Tower adalah salah satu hal berkesan. Banyak hal yang saya pelajari dari kota seperti Paris. Kebanyakan dari mereka tidak tinggal di rumah besar seperti kebanyakan orang Indonesia terutama Jakarta. Hanya tinggal di flat kecil atau apartment saja. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak perlu memiliki sebuah car port di rumah nya. Karena untuk apa sebuah rumah besar di kota yang sangat aktif seperti Paris? Kebanyakan aktifitas dilakukan diluar rumah. Pergi bekerja, bersekolah, bersosialisasi, dan akhirnya rumah hanya sekedar tempat untuk tidur beristirahat setiap malam. Yang dibutuhkan oleh manusia di sebuah kota yang aktif dan produktif bukanlah kekayaan pribadi atau rumah pribadi yang mewah. Yang sesungguhnya dibutuhkan adalah kota yang indah, fasilitas lengkap, transportasi nyaman, dan aman. Menurut saya, lebih enak duduk di pinggir taman di tepi sungai yang indah, berbagi bersama dengan banyak penduduk kota lainnya, daripada duduk di dalam rumah yang mewah.

Terima kasih Paris, ini bukan yang terakhir kalinya, di lain kesempatan saya akan berkunjung kembali :D

Facebook Photo Album


blog comments powered by Disqus

Blog

blog image

eCommerce vs Marketplace

Sebagai salah satu pelaku industri, saya hendak melakukan riset secara langsung, bagaimana rasanya dan bagaimana perbedaan antara berjualan lewat website online store sendiri atau ecommerce, dibandingkan dengan menggunakan marketplace yang sudah begitu banyak bertebaran saat ini. Oleh karena itu sejak setahun terakhir, saya mencoba melakukan kegiatan jual beli

Read more

blog image

Sunset For Retail Business

Hari ini, 30 Juni 2017, adalah hari terakhir bagi salah satu raksasa bisnis retail 7-Eleven di Indonesia. Saya sudah sempat menyimak paparan beberapa pengamat, terutama pak Rhenald Kasali di CNN Indonesia. Saya setuju ada faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi tutupnya bisnis 7-eleven di Indonesia. Tapi saya tidak tertarik untuk

Read more

blog image

Firefox 54 Yang Jauh Lebih Ngebut

Kehidupan manusia di jaman sekarang ini tampaknya banyak berubah dibandingkan dengan kehidupan di jaman 10-20 tahun yang lalu. Salah satu aktifitas yang rutin dilakukan sebagian besar orang setiap harinya, pastinya adalah mengakses internet. Dulu, mengakses internet hanya bisa dilakukan dengan menggunakan browser di komputer PC atau laptop.

Read more

blog image

How to Build a Successful Business

Someone just emailed me, asking about my successful freelance career. Well, i know that i'm still far from success in build my own web design company. But if talking about success with my freelance career as web designer, i think it's a target that i already achieved few

Read more

blog image

Marvel App, Aplikasi Untuk Membuat Prototype Tanpa Coding

Beberapa waktu lalu saya diperkenalkan dengan sebuah aplikasi yang ternyata sesuai dengan yang selama ini saya cari dan belum ketemu. Aplikasi yang cocok untuk kalian yang punya bakat design, namun lemah di coding, seperti saya. Marvel App bisa membantu membuat...

Read more