Blog Story Perjalanan Karir Saya

Perjalanan Karir Saya

Dulu saya selalu bertanya kepada diri saya, “Apa artinya sukses?” Tentunya saya menyadari, bahwa setiap orang mempunyai definisi dan ukurannya masing-masing tentang sukses. Dan definisi saya dulu tidak jauh dari jumlah materi yang kita miliki. Yang mana menurut saya sukses berarti punya uang banyak, makan enak, mobil, rumah, sering jalan-jalan ke luar negeri, dan hidup hanya untuk bersenang-senang. Setelah hampir semua sudah saya raih, justru kini saya punya alat ukur baru tentang sukses. Sukses itu adalah ketika kamu mempunyai sebuah cerita. Cerita yang tidak harus terlalu luar biasa, mungkin hanya sebuah cerita yang pendek dan sederhana. Namun cerita tersebut bisa menginspirasi orang lain. Tidak harus menginspirasi banyak orang, mungkin hanya menginspirasi sedikit orang, namun cerita tersebut bisa menumbuhkan harapan untuk memiliki hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebuah cerita inspirasi yang memberikan harapan dan keyakinan, bahwa hari esok bisa lebih baik dari hari ini. Bahwa terus melangkah maju ke depan, lebih baik daripada berdiam diri atau bahkan melangkah mundur ke belakang.

Saya adalah seorang anak bungsu dari 2 bersaudara yang lahir dari keluarga yang kurang berada. Saya tidak terlalu beruntung untuk memiliki sosok ayah dalam hidup saya, karena saya sudah ditinggal sejak usia 2 tahun. Sehingga saya lahir dan besar bersama ibu dan satu kakak saya.

Seringkali hidup saya bisa terus berlangsung karena tidak lepas dari belas kasihan orang lain melihat ibu saya yang kesulitan dan sendirian membesarkan kedua anaknya. Hampir semua yang saya miliki adalah pemberian orang lain. Misalnya saja baju yang saya pakai, lalu sepatu, dan lain sebagainya. Kalau bukan barang yang bekas, meskipun barang baru, pastilah pemberian dari orang lain.

 

Masa Kecil

Saya dulu bersekolah di sebuah sekolah swasta. Tentunya saya bisa bersekolah di sekolah swasta bukan karena saya banyak uang, melainkan karena belas kasihan dari yayasan sehingga saya bisa bersekolah di sana dengan bantuan biaya dari berbagai sumber, terutama dari yayasan itu sendiri. Mungkin kebanyakan orang akan menyebut hal tersebut sebagai beruntung. Saya pun setuju bahwa saya beruntung bisa dididik di sekolah swasta tersebut, namun bukan berarti saya menjalani hari-hari saya di sekolah tersebut tanpa beban. Perbedaan latar belakang keluarga dan finansial yang berbeda membuat saya merasa rendah diri dan cenderung menutup diri dari kebanyakan teman-teman saya. Misalnya saja disaat libur panjang sekolah, mungkin kebanyakan teman-teman punya rencana liburan bersama ayah ibu dan kakak adiknya. Sementara saya terbiasa menghabiskan liburan sekolah saya dengan bekerja di sebuah pabrik industri rumahan yang memproduksi kaos kaki. Dari setiap hari bekerja selama satu bulan, saya bisa mendapatkan upah sebesar Rp 100.000. Tentunya uang tersebut saya berikan kepada ibu saya. Namun saya tidak merasakan terbeban, dan justru saya malah menyukai bekerja di pabrik tersebut karena menurut saya justru menyenangkan. Memang tidak selalu pada setiap liburan sekolah saya habiskan untuk bekerja di pabrik, ada kalanya malah tidak bekerja, justru saya merasa bosan dan berharap liburan segera berakhir sehingga saya bisa bersekolah kembali dan bertemu dengan teman-teman sekolah saya.

Ada sebuah SD negeri di depan rumah saya. Di situ selalu ada pedagang yang berjualan mainan, makanan, dan menyewakan permainan game. Beberapa pedagang tersebut menginspirasi saya yang berusia kecil untuk ikut memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang. Saat kelas 5 SD, karena saya punya hobi menggambar, saya membuat sebuah kelanjutan dari komik kesukaan saya yang sudah tamat. Komik ini pun saya fotokopi dan saya jilid dan seorang teman saya berbaik hati membelinya. Tentunya ini menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan dan memotivasi saya.

Kondisi sulit finansial ini terus berlanjut sampai saya duduk di bangku SMA. Di saat teman-teman saling bertanya tentang rencana ke universitas mana mereka hendak melanjutkan pendidikan mereka. Saya sudah jelas tahu bahwa selesai dari SMA, saya sudah harus mencari pekerjaan. Saya bukan seorang anak tanpa prestasi. Ketika saya meniatkan diri, saya sempat beberapa kali mendapatkan peringkat satu, namun lelah memikirkan manfaat dari semua pelajaran yang saya pelajari untuk hidup saya sendiri, membuat saya murung dan lebih memilih untuk mengumpulkan tenaga dan energi untuk fokus bekerja dan mencari uang selepas saya lulus SMA. Akhirnya, prestasi di sekolah, bukan menjadi fokus utama saya. Saya banyak tertekan dengan kenyataan bahwa saya punya ‘nasib’ yang berbeda dengan teman-teman saya. Saat itu, saya merasa iri dengan teman-teman saya.

Beberapa bulan setelah saya lulus SMA, saya sempat mencari pekerjaan kesana kemari selama beberapa bulan dan tidak kunjung menemukan pekerjaan. Saya mencari lowongan kerja lewat koran, dan datang untuk wawancara kesana kemari. Sebuah pengalaman yang aneh, ketika saya untuk pertama kalinya memakai kemeja rapi dan mencoba melamar kerja kesana kemari. Saya sempat merindukan atmosfir sekolah, dan mencoba kembali berkunjung ke sekolah di sore hari sekedar melepas rasa rindu dengan masa di sekolah. Sempat terpikir, seandainya saya bisa terus saja menjalani hidup saya di sekolah. Memang tidak mudah menjalani transisi dari dunia yang biasanya kalian terbiasa belajar di sekolah, lalu berganti menjadi dunia bekerja. Saya sempat bertemu guru saya, dan beliau berkata bahwa kerinduan itu akan hilang dengan sendirinya ketika nanti saya sudah sibuk bekerja.

 

Mulai Bekerja

Akhirnya saya mendapatkan pekerjaan pertama saya lewat referensi saudara sepupu saya. Saya pertama bekerja disebuah supermarket di kawasan Puri Marina, Ancol. Karena saya sudah diminta masuk bekerja, sementara saya belum bertemu dengan pemilik dari supermarket tersebut, saya jadi kebingungan dengan tugas saya. Awalnya saya sempat diminta menjadi staff stock gudang. Namun kemudian karena saya merasa tidak enak sebagai anak baru menyaksikan para pekerja lain yang sudah lebih lama bekerja di situ, bahkan beberapa berusia lebih tua, mereka bekerja kasar mengangkat-angkat barang. Akhirnya saya ikut membantu mengangkat-angkat barang, dan kemudian saya tidak merasa jauh berbeda pekerjaan saya dengan kuli angkut. Hanya saja saya seorang kuli angkut yang menggunakan kemeja rapi. Dalam kebingungan mengenai tugas pekerjaan saya selama sekitar sebulan, pemilik supermarket belum juga kunjung pulang dari perjalanannya dari luar negeri. Sampai satu hari saya lelah bekerja dan memang sedang tidak merasa punya tugas apapun lagi yang bisa dikerjakan, saya duduk menyendiri di pojok supermarket. Ketika itu pula untuk pertama kalinya saya lihat sang pemilik supermarket muncul dan melihat saya sedang duduk bersantai. Ketika itu juga saya dipecat dari pekerjaan saya. Ya, saya dipecat pada pekerjaan pertama saya.

Pekerjaan kedua saya dapatkan lewat saudara sepupu saya yang mempunyai bisnis makanan ringan alias snack. Dia menjual snack nya ke beberapa jaringan sekolah swasta di Jakarta. Dan saya diminta menggantikan sales lama, untuk bekerja membantu pengiriman barang ke berbagai sekolah di Jakarta. Awalnya saya dibantu oleh sales yang lama untuk mempelajari lokasi sekolah-sekolah yang selama ini menjadi jaringan penjualannya. Kemudian setelah sebulan saya mengarungi sendiri panas teriknya jalanan Jakarta untuk mengirimkan snack ke berbagai sekolah di Jakarta. Karena teknologi yang terbatas saat itu, saya kesulitan mencari dan mengingat lokasi sekolah-sekolah tersebut. Cukup sering saudara sepupu saya marah pada saya karena saya tidak bisa bekerja dengan baik. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dan mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut.

Pekerjaan ketiga saya dapatkan lewat bantuan teman sekolah. Saya bekerja menjadi operator parkir di Menara Danamon, Kuningan. Ya, operator parkir adalah yang mengetik nomor kendaraan anda, dan kemudian memberikan karcis parkir kepada anda, atau mereka yang menagih anda bayar ketika anda hendak keluar dari areal parkir. Pada pekerjaan ini ternyata saya tidak sekedar diminta menjadi operator parkir saja. Saya diminta untuk membantu membongkar jaringan kotor dari tim operator parkir yang lama. Kondisi ini membuat saya serba salah, karena saya setiap hari bekerja bersama tim parkir yang lama, membuat saya punya rasa solidaritas dan berusaha untuk tidak menjatuhkan tim operator parkir yang lama. Namun saya juga tidak bisa berbohong kepada kakak dari teman saya, yang membantu saya masuk bekerja di situ. Sampai akhirnya sebagian besar dari tim parkir yang lama dipecat dari pekerjaannya. Dan saya sempat ditawarkan menjadi supervisor menggantikan supervisor yang lama. Namun dengan besaran gaji yang tidak jauh berbeda, yang tadinya Rp 700.000 menjadi Rp 900.000. Karena beban moral, yaitu perasaan bersalah saya kepada teman-teman yang akhirnya dipecat akibat laporan saya, saya merasa tidak bisa bekerja lebih lama di situ. Setelah struktur lama diganti dengan yang baru dalam satu bulan, saya menyatakan hendak mengundurkan diri dari pekerjaan saya. Saya diminta bertahan sebulan lagi untuk membantu mengarahkan tim yang baru.

Setelah menganggur beberapa saat, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan keempat saya, yaitu menjadi operator warnet alias OP warnet. Saya mendapatkan pekerjaan ini lewat bantuan kakak saya, yang kebetulan memang suka bermain game online saat itu. Saya diperkenalkan dengan salah satu bos warnet yang cukup terkenal di kawasan Binus. Dan benar saja, ini menjadi salah satu pekerjaan yang menyenangkan. Bagaimana tidak, kamu hanya perlu duduk di meja dengan komputer yang juga bisa digunakan untuk bermain game online. Dan tugasmu adalah menerima pembayaran dari user, semudah itu. Tentunya sesekali ada menyapu dan mengepel. Dan shift pekerjaan saya biasanya adalah shift malam, karena kebanyakan OP lain adalah anak-anak yang berkuliah di Binus, sehingga mereka biasanya baru bisa bekerja di siang hari, sementara malamnya beristirahat. Kebetulan kondisi saya yang tidak kuliah, menjadi tepat untuk diposisikan bekerja sebagai OP warnet malam.

 

OP Warnet

Siapa yang tidak suka pekerjaan ini, bisa bermain game online sesuka hati, tidak membayar, bahkan dibayar. Untungnya saya bukan orang yang punya masa lalu gemar bermain game online. Sehingga saya awalnya tidak terlalu kecanduan dengan game-game online. Namun pada akhirnya saya tenggelam juga dalam dunia game online. Saya sempat menghabiskan lebih banyak waktu hidup di dunia maya ketimbang dunia nyata. Bagaimana tidak. Saya biasa mulai tugas menjaga warnet mulai jam 2 pagi. Dan dari rumah saya di Cengkareng, tidak ada kendaraan umum pada jam tersebut. Sehingga saya harus naik Kopaja dari sekitar jam 9 malam dan menyambung dengan Mikrolet di Slipi Jaya untuk kemudian menuju warnet tempat saya bekerja di kawasan Syahdan. Dan saya baru mulai tugas menjaga warnet pada jam 2 malam hingga 10 pagi. Kemudian saya pulang, sampai rumah bisa sekitar jam 1 siang. Kemudian dari jam 1 siang, saya tidur hingga sore sekitar jam 7, kemudian bersiap berangkat lagi bekerja. Disinilah dimulainya kebiasaan begadang saya.

Adakalanya saya diminta untuk bekerja 2 shift, dari 2 malam hingga 6 sore. Dan kemudian saya tidur di warnet, sekitar 4 jam. Kemudian bangun bekerja lagi mulai jam 10 malam. Sampai suatu hari bos saya menawarkan saya naik gaji yang tadinya Rp 700.000, menjadi Rp 1.1000.000 dengan syarat saya bekerja 12 jam setiap harinya. Tentunya saja saya menyanggupi.

Selama bekerja menjadi OP warnet, saya sempat mengenal game seperti Gunbound, Pangya, Ran Online, DOTA, dan yang paling berkesan adalah Lineage, server lokal milik Indogamers AMPM. Saat itu game Ragnarok juga sedang booming, namun saya tidak terlalu menyukai game Ragnarok. Game Lineage cukup berkesan karena lewat game ini, saya sempat menjual 4 ekor naga, yang masing-masing senilai Rp 500.000, sehingga total yang saya dapat adalah Rp 2.000.000, yang kemudian uang tersebut saya gunakan untuk menjadi uang muka saya membeli kendaraan bermotor pribadi pertama saya sebuah sepeda motor, yang masih saya gunakan sampai hari ini sejak 2007. Saya juga sempat mencari uang dengan menjual karakter RAN. Saya masih suka mencari peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Selama hampir 3 tahun saya cukup betah bekerja menjadi OP warnet. Namun, saya beruntung karena mendapatkan tuntutan untuk segera sukses dari pacar saya saat itu. Tuntutannya mengingatkan saya pada tujuan saya, yaitu untuk mengubah jalan hidup saya menjadi lebih baik. Meskipun tuntutannya membebani saya, namun membuat saya untuk berusaha lebih keras. Pada masa akhir saya bekerja sebagai OP warnet, saya sempat belajar sedikit software Adobe Photoshop. Saya juga sempat membeli buku belajar membuat design vektor dengan CorelDraw. Dengan modal yang pas-pasan ini saya memberanikan diri membuat CV dan mencoba melamar kerja sebagai grafis desainer kesana kemari. Saya mengirimkan CV saya lewat komputer saya bekerja di warnet. Dan suatu hari bos saya menelepon saya. “Kamu kalau sudah tidak tertarik bekerja di sini, besok jangan datang lagi.” Dan akhirnya saya dipecat dari pekerjaan saya sebagai OP warnet. Pekerjaan saya satu-satunya yang bertahan hampir 3 tahun. Di saat teman-teman lain menghabiskan 3 tahunnya menyelesaikan studi untuk mendapatkan gelar S1, saya justru menghabiskan 3 tahun saya menjadi OP warnet.

 

2 Hari Bekerja Menjadi Desainer Grafis

Dalam kondisi yang menganggur, saya tidak menyerah untuk terus berusaha mendapatkan pekerjaan sebagai desainer grafis. Akhirnya setelah banyak mencoba melamar dan wawancara disana sini, saya mendapatkan kesempatan bekerja sebagai grafis desainer di salah satu perusahaan, lewat bantuan teman. Namun malang nasib saya, cuma 2 hari saya bekerja diperusahaan itu, saya dikeluarkan. Kemudian saya bertekad untuk menjalankan usaha saya sendiri. Saya punya keyakinan bahwa saya bisa berhasil apabila saya menjalankan usaha sendiri. Saat itu saya memang sudah menyerah untuk melamar ke perusahaan manapun, karena saya menyadari bahwa tidak akan ada perusahaan yang mau menerima saya bekerja dengan pengalaman kerja saya dan latar belakang pendidikan saya. Namun saya yakin, akan ada orang yang mau membayar kerja keras, bakat, dan usaha saya. Itulah mengapa saya memberanikan diri untuk memulai menjalankan usaha saya sendiri lewat bendera Yopdesign. Bahkan, sampai hari ini pun, saya tidak yakin apabila ada perusahaan yang mau menerima saya bekerja. Tapi saya yakin, banyak perusahaan yang mau membayar pekerjaan saya. Mungkin terdengar aneh, namun inilah jalan saya.

 

Belajar Menjual

Memang bukan hal yang mudah untuk mengambil langkah pertama dalam menjalankan usaha sendiri. Saya tidak mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat saya, bahkan ibu saya juga tidak mendukung, karena khawatir saya tidak mendapatkan penghasilan yang pasti. Akhirnya saya mendapatkan pekerjaan kelima saya lewat bantuan teman SMA. Saya bekerja menjadi sales di perusahaan bahan bangunan. Di situ saya belajar banyak tentang berjualan. Sebagai seorang yang introvert, saya dipaksa untuk bermuka tembok bersikap ramah kepada para pemilik toko bangunan. “Hi, apa kabar?” Lalu belajar untuk berbasa-basi dan pada akhirnya menanyakan orderan. Wilayah toko-toko yang harus saya kunjungi adalah sekitar Jakarta Selatan, Depok, Gunung Putri, dan Cibubur. Dan target penjualan saya ketika itu adalah sekitar hampir Rp 100.000.000. Dalam satu hari saya harus mengunjungi setidaknya 8 toko dengan menggunakan sepeda motor. Seringkali untuk menghemat pengeluaran, ketika sudah siang hari, di jam makan siang, saya berhenti di pinggir jalan dan membuka bekal makan siang yang saya bawa dari rumah.

Biasanya sore hari, semua sales kembali ke kantor, dan seringkali mereka bersantai mengobrol satu sama lain. Semua sales terlihat gembira dan ceria, atau setidaknya mereka berusaha terlihat demikian. Dalam suasana mengobrol yang seru itu, saya justru berpikir, bahwa saya tidak bisa begini terus, kapan saya baru sukses kalau saya mengobrol ngerumpi dan ikut tertawa. Saya merasa bersalah untuk merasa gembira ketika saya belum sukses. Dan terbesit pikiran sederhana saya, terkait tekanan dari perusahaan untuk saya bisa mengejar target penjualan Rp 100.000.000 dalam sebulan. Saya dengan sederhana berpikir, apabila saya bisa mendapatkan target penjualan sebesar demikian, mengapa saya tidak gunakan tenaga dan usaha yang sama untuk diri saya sendiri? Kalaupun tidak mendapatkan sejumlah Rp 100.000.000, setidaknya saya bisa mendapatkan lebih dari gaji saya sendiri saat ini kan?

Pengalaman bekerja menjadi sales ini juga merupakan pengalaman yang penting untuk saya. Pengalaman ini membuat saya belajar tentang bagaimana menjual. Anda bisa membaca banyak buku tentang cara menjual yang baik, namun anda tidak akan benar-benar tahu sebelum ada benar-benar terjun praktek dan mencobanya sendiri. Mental saya dalam menjual dibentuk lewat pengalaman saya bekerja sebagai seorang sales.

Saat itu saya bekerja sebagai sales pada hari senin sampai jumat. Sementara hari sabtu saya gunakan untuk berkeliling dengan sepeda motor saya mencari rumah makan di ruko-ruko yang mungkin tertarik menggunakan jasa desain grafis saya. Saya menawarkan jasa membuat desain brosur, buku menu, dsb. Saya juga belajar tentang percetakan offset. Saya berusaha menguasai hal baru yang saya yakini bisa merubah hidup saya menjadi lebih baik. Namun bukan pekerjaan mudah mencari pelanggan pertama. Akhirnya ada satu rumah makan yang mempercayakan saya untuk membantu membuatkan brosur. Bayarannya saat itu sekitar Rp 500.000 yang mana saya harus membantu membuat desain dan juga mencetak brosur sebanyak 3000 lembar. Keuntungannya hanya sekitar Rp 200.000, yang justru saya pakai untuk mencetak brosur untuk jasa saya sendiri yaitu jasa desain dan percetakan. Saya kemudian menggunakan brosur saya dan menyebarkannya ke beberapa perumahan, yang bisa dibilang ternyata hasilnya nyaris nol. 

 

Kisah Freelance Dimulai

Suatu hari, lewat sebuah buku, seorang teman memperkenalkan Joomla CMS kepada saya. Sebuah CMS yang memudahkan kita apabila hendak membangun sebuah website. Dia bahkan membeli buku Tutorial tentang cara menggunakan Joomla yang dibeli dari Gramedia. Saya yang minim dalam finansial, hanya bisa meminjam dan kemudian memfotokopi buku tersebut. Saya bahkan mempelajarinya di sebuah warnet dekat rumah. Untungnya buku tersebut juga disertai CD Tutorial yang berisi video-video yang membuat saya lebih mudah memahami. Lalu dengan modal ini saya mulai memberanikan diri menawarkan jasa membuat website, di samping jasa desain grafis dan percetakan saya.

Pertama kali saya menawarkan jasa saya di situs forum Kaskus dengan judul “Jasa Web Design Murah”. Dan ternyata berhasil menarik mata beberapa orang yang akhirnya menghubungi saya dan meminta saya membantu membuatkan website. Meskipun saya belum terlalu paham tentang bagaimana membuat website. Saya memberanikan diri menerima proyeknya terlebih dahulu. Kemudian dari uang muka yang diberikan klien, saya pakai untuk membeli buku di Gramedia yang saya rasa bisa membantu wawasan dan pekerjaan saya dalam menyelesaikan proyek dari klien. Inilah awal perjalanan karir saya sebagai seorang Freelance Web Designer, yang saya mulai pada tahun 2009. Saya membuat website saya sendiri untuk menampung portfolio-portfolio saya nantinya. Dan pada tahun inilah saya membeli domain yopdesign.com, domain yang membantu saya mengubah nasib hidup finansial saya menjadi lebih baik di masa depan.

Beberapa proyek awal, saya kerjakan dan selesaikan di warnet, dengan membayar sewa per jam. Saya juga sempat menggunakan komputer kakak saya di kamarnya. Namun ada satu waktu dimana kakak saya marah besar karena AC di kamarnya rusak. Dan saya dituding menjadi penyebab kerusakan AC nya karena melulu menggunakan komputer di kamarnya. Dalam perasaan sedih dan campur aduk, saya berjalan-jalan di Harco Mangga Dua, melihat-lihat laptop-laptop yang harganya diluar kesanggupan saya. Bagaimanapun saya harus segera memiliki laptop pribadi untuk mendukung pekerjaan saya. Namun saya tidak mungkin bisa membeli laptop yang harganya paling murah pun Rp 5.000.000, yang saat itu masih saya anggap terlalu mahal untuk kantong saya. Saya kemudian teringat dengan seorang teman yang punya toko komputer. Lalu saya telepon dan bertanya apakah bisa membantu saya untuk memiliki sebuah laptop. Lalu dia menawarkan saya sebuah laptop bekas yang masih layak dipakai. Dan saya boleh memilikinya dan membayarnya dengan cicilan yang boleh saya bayar semampu saya. Saat itu saya menyanggupi untuk menyicil laptop tersebut dengan bayaran Rp 500.000 per bulan. Dari laptop pertama tersebut saya banyak terbantu dalam mengerjakan berbagai proyek baru.

Berbagai portfolio yang tadinya sedikit, lama kelamaan semakin banyak. Semakin banyak orang yang mempercayakan pekerjaan websitenya kepada saya. Kini fokus saya semakin jelas, saya harus dikenal sebagai seorang Web Designer yang bisa diandalkan dan punya kapabilitas. Untuk itu saya selalu berusaha sebaik-baiknya menyelesaikan setiap proyek yang dipercayakan klien kepada saya. Saya bersyukur bahwa sebagian besar klien saya puas dengan hasil pekerjaan saya. Dari portfolio yang tadinya hanya tentang bisnis perorangan, lalu berkembang mendapatkan klien-klien perusahaan, sampai kini banyak perusahaan besar yang mempercayakan pekerjaannya kepada saya.

Terus terang perjalanan awal saya sebagai Web Designer juga bukan tanpa masalah. Saya tidak punya bakat dalam hal coding atau programming, saya hanya senang mengerjakan design. Dan saya sempat membeli banyak buku tentang programming, berharap saya bisa menguasai ilmu programming juga. Namun saya pada akhirnya menyerah, dan berusaha mencari partner yang bisa mengisi kekurangan saya dalam hal coding. Mencari partner kerja pun bukan pekerjaan mudah, saya menganggap mencari partner kerja seperti mencari jodoh, sulit mencari yang cocok. Namun saya beruntung tidak butuh waktu lama untuk saya bertemu dengan partner yang cocok. Dan sampai hari ini saya masih bekerja sama dengan partner coder saya. Dan yang luar biasa, partner coder saya justru punya latar belakang bukan menuntut ilmu di bidang programming atau IT. Dia justru belajar programming dari sekedar googling dari internet, dan belajar dari studi kasus.

Dalam perjalanan karir saya sebagai seorang Freelance Web Designer, saya menyadari pentingnya untuk benar-benar mempelajari dan mengerti profesi saya. Saya menyadari bahwa saya adalah orang yang belajar dengan otodidak tanpa latar belakang edukasi formal. Untuk menutupi kekurangan saya dalam hal edukasi formal, saya mencoba aktif mengikuti berbagai kegiatan dimana para pekerja seputar internet dan teknologi berkumpul. Saya mencoba mengenal berbagai macam komunitas terkait dengan internet dan teknologi di Jakarta, dan kemudian Bandung. Dalam komunitas-komunitas tersebut, seringkali saya mendapatkan sharing pengalaman yang menginspirasi saya untuk terus bergerak maju dan menjadi lebih baik. Berbagai sharing pengalaman yang orang lain berikan membuat mata saya terbuka, bahwa dalam hidup ini masih ada banyak kesempatan yang bisa saya raih.

Lewat bertemu dengan banyak profesional, saya menyaring berbagai informasi penting yang saya bisa gunakan. Saya teringat dulu ketika bertemu salah satu profesional yang membagikan pengalamannya tentang membuat website dan mendapatkan bayaran Rp 5.000.000 dari pekerjaannya saat itu. Saya sangat terkejut dan tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada yang mau membayar sebegitu besar hanya untuk membuat website? Saat itu orang membayar saya paling mahal pun hanya Rp 2.000.000 dan menurut saya itu sudah merupakan nilai yang besar. Dan akhirnya perlahan saya menaikkan rate harga jasa saya. Bukan hanya menaikkan harga, saya pun berusaha meningkatkan value atau nilai dari pekerjaan yang saya hasilkan sebelum menaikkan harga jasa saya sendiri. Dan hingga kini, yang tadinya saya bingung, bagaimana ada orang yang mau membayar Rp 5.000.000 hanya untuk membuat website, sekarang saya justru bingung bagaimana ada orang yang mau dibayar Rp 5.000.000 untuk membuat sebuah website.

Kondisi finansial saya sudah semakin baik. Namun saya belum merasa bahwa saya sudah bisa berpuas diri untuk saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir saya merasa jalan di tempat, tidak lebih buruk, namun juga tidak jauh lebih baik. Saya berharap bisa terus meroket seperti awal-awal karir freelance saya dulu. Untuk itu saya perlu membuat gerakan-gerakan yang berani, tidak hanya berani untuk maju, namun juga berani untuk berubah, dan berani keluar dari zona nyaman saya. Saya menyadari bahwa ada sebuah babak baru yang harus saya jalani setelah ini. Sebuah babak baru yang menunggu keberanian saya untuk memulai satu langkah pertama yang diikuti dengan langkah-langkah berikutnya.

 

Apa Artinya Sukses?

Lewat cerita ini, saya hendak membagikan pengalaman saya. Bagaimana saya memulai karir saya dari sebuah titik yang begitu rendah mendekati titik nyaris nol, sampai titik saya saat ini. Tentunya saya belum bisa berpuas diri, masih banyak yang saya ingin lakukan dan banyak yang saya rencanakan. Apa yang sudah saya capai memang bukan sesuatu yang luar biasa. Namun saya juga banyak bersyukur untuk semua yang sudah saya lalui, alami, dan pelajari dalam hidup saya.

Dulu saya selalu bertanya kepada diri saya, “Apa artinya sukses?” Tentunya saya menyadari, bahwa setiap orang mempunyai definisi dan ukurannya masing-masing tentang sukses. Dan definisi saya dulu tidak jauh dari jumlah materi yang kita miliki. Yang mana menurut saya sukses berarti punya uang banyak, makan enak, mobil, rumah, sering jalan-jalan ke luar negeri, dan hidup hanya untuk bersenang-senang. Setelah hampir semua sudah saya raih, justru kini saya punya alat ukur baru tentang sukses. Sukses itu adalah ketika kamu mempunyai sebuah cerita. Cerita yang tidak harus terlalu luar biasa, mungkin hanya sebuah cerita yang pendek dan sederhana. Namun cerita tersebut bisa menginspirasi orang lain. Tidak harus menginspirasi banyak orang, mungkin hanya menginspirasi sedikit orang, namun cerita tersebut bisa menumbuhkan harapan agar orang lain juga bisa punya semangat dan keyakinan untuk bisa memiliki hidup yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebuah cerita inspirasi yang memberikan harapan dan keyakinan, bahwa hari esok bisa lebih baik dari hari ini. Bahwa terus melangkah maju ke depan, lebih baik daripada berdiam diri atau bahkan melangkah mundur ke belakang.

Selalu ada harapan untuk hari esok, apabila kita tidak putus asa, tidak menyerah, dan terus berusaha di hari ini. Apapun yang kamu yakini, apapun yang kamu sukai, apapun yang kamu sedang kerjakan saat ini, percayalah, bahwa apabila kamu fokus dan bertekun, akan ada titik di masa depan dimana kamu bisa menengok ke belakang dan tersenyum bangga dengan segala kesusahan yang sudah kamu alami dan lewati untuk meraih apa yang kamu capai di saat ini. Dan pada saat itu, kamu bisa membagikan cerita kamu sendiri untuk menginspirasi orang lain, agar mereka juga bisa punya harapan untuk masa depan mereka.

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang telah menginspirasi dan memberikan dorongan kepada saya dari dulu hingga titik saat ini. Semoga saya juga bisa menjadi inspirasi untuk banyak orang lain, seperti dulu dan sampai saat ini saya mendapatkan banyak inspirasi dari orang lain yang membentuk saya menjadi lebih baik. Semoga mulai dari sekarang hingga seterusnya, saya bisa memberikan manfaat untuk banyak orang lain. Terima kasih.

 

Apa definisi dan ukuran kamu tentang sukses?

 

Baca juga :


blog comments powered by Disqus

Hello!

Yofie Setiawan

My name is Yofie, I manage a solid team of web designers and web developers based in Jakarta, Indonesia. We are experts in building websites with Joomla CMS and are able to build websites using Responsive Web Design technology. If you are interested in hiring us for a project, Contact Us!